SURABAYA – Di tengah gempuran tren digital yang seringkali menjauhkan remaja dari realitas sosial, sebuah pemandangan kontras tersaji di SMP Muhammadiyah 7 (SMPM 7) Surabaya. Rabu (29/4), puluhan siswa kelas 9 “Sekolahnya Para Pemimpin” ini justru tampak khusyuk bergelut dengan kain kafan dan tata cara pemulasaraan jenazah.
Bukan sekadar simulasi, kegiatan ini merupakan Ujian Praktik Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (AIK) bertajuk Manajemen Jenazah Paripurna. Tujuannya satu: memastikan setiap alumni tidak hanya cerdas di atas kertas, tapi juga menjadi tumpuan umat di saat-saat paling krusial.

Menanamkan Mentalitas Pemimpin yang Melayani
Bagi SMPM 7, kompetensi merawat jenazah adalah “ijazah kehidupan”. Para siswa dididik untuk menguasai setiap jengkal prosesi—mulai dari teknik memandikan yang menjaga kehormatan jenazah, hingga seni melipat kain kafan yang rapi dan presisi sesuai standar Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah.
“Kami ingin mendobrak stigma bahwa urusan jenazah adalah tugas orang tua. Lulusan kami harus bisa tampil di depan. Mereka tidak boleh hanya berdiri di pojokan saat keluarga atau tetangga berduka,” tegas salah satu tim penguji di lokasi ujian.
Empat Pilar Kecakapan untuk Umat
Ujian ini membedah empat kompetensi fundamental yang harus dikuasai secara tuntas:
- Etika Memandikan: Menyucikan dengan kelembutan dan menjaga martabat jenazah.
- Ketangkasan Mengkafani: Kerapian dan efisiensi penggunaan kain kafan.
- Kekhusyukan Menyalatkan: Praktik doa dan takbir dengan bacaan yang tartil.
- Adab Memakamkan: Simulasi penghormatan terakhir saat jenazah menuju liang lahat.
Bekal Nyata untuk Masa Depan
Meski awalnya diwarnai ketegangan, para peserta ujian menunjukkan kematangan mental yang luar biasa. Bagi mereka, ini adalah bekal fardu kifayah yang tak ternilai harganya. “Awalnya merinding, tapi setelah praktik, ada rasa bangga bisa menguasai ilmu ini. Ini cara kami berbakti kepada masyarakat nanti,” ujar salah satu siswa dengan mantap.

Dengan bekal ini, SMPM 7 Surabaya kembali membuktikan jati dirinya sebagai produsen pemimpin berkarakter. Mereka tidak hanya mencetak calon manajer atau birokrat, melainkan sosok pemimpin religius yang tulus melayani umat hingga ke liang lahat.
Inilah wujud nyata dari pendidikan yang membumi: ketika nilai agama tidak hanya dihafal, tapi dipraktikkan sebagai solusi nyata bagi lingkungan sekitar.
Dwi Nuryani, S.Ud












