Langit Jumat sore, 24 April 2026, perlahan meredup ketika tiga jurnalis muda melangkahkan kaki menuju Masjid At-Taqwa. Dengan membawa semangat, kamera, serta keberanian yang masih dibalut rasa gugup, mereka datang bukan sekadar untuk melihat tokoh besar dari dekat, melainkan untuk menunaikan tugas jurnalistik pertama yang akan selalu mereka kenang.
Mereka adalah Syahrotul Hikmah dari kelas 8 Al Fathonah, Rahma Putri Sekar Wijayanti dari kelas 8 Al Hikmah, dan Freya Kamelia Jasmine dari kelas 7 At-Taqwa. Zahro dan Sekar berdiri sebagai jurnalis muda yang sibuk menyiapkan pertanyaan, sementara Freya memegang peran penting di balik lensa kamera, memburu setiap momen agar tak hilang ditelan waktu.

Sekitar pukul setengah lima sore, mereka tiba di lokasi. Namun sosok yang hendak mereka liput ternyata sudah datang lebih dahulu. Anies Baswedan berjalan menyusuri gang kecil menuju Masjid At-Taqwa, diikuti jamaah dan para peliput muda yang berusaha menjaga langkah agar tak tertinggal.
Di dalam masjid, suasana terasa teduh. Kajian berlangsung khusyuk, sementara tiga siswa itu menunggu di dekat ruang takmir dengan jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Mereka tahu, selepas kajian usai, tantangan sesungguhnya baru dimulai.
Benar saja.
Saat Anies Baswedan keluar dari ruang kajian dan menuju lantai atas masjid, keraguan sempat menyelimuti langkah mereka. Area itu dipenuhi jamaah perempuan. Mereka khawatir kehadiran mereka justru mengganggu. Namun izin dari salah satu pengurus masjid menjadi jalan pembuka bagi mimpi kecil mereka malam itu.
Di lantai atas, suasana berubah riuh. Puluhan ibu-ibu mengerumuni Anies Baswedan untuk sekadar berjabat tangan, tersenyum, atau mengabadikan foto bersama. Di tengah lautan manusia itu, Zahro dan Sekar berusaha menembus celah kerumunan, sementara Freya sigap menjaga fokus kameranya. Beberapa kali mereka tersenggol, terdesak, bahkan hampir kehilangan pijakan. Namun semangat jurnalistik rupanya lebih kuat daripada rasa lelah.
Lalu, di tengah hiruk-pikuk itu, lahirlah sebuah momen kecil yang justru menjadi kenangan paling hangat.
Dengan suara lantang penuh spontanitas, Sekar memanggil, “Mas Anies!”
Seketika beberapa ibu-ibu menoleh bersamaan. Wajah Sekar berubah gugup sebelum akhirnya ia buru-buru berkata sambil tertawa kecil, “Eh… maksudnya Pak Anies.”

Kerumunan yang tadinya sesak mendadak dipenuhi senyum dan tawa ringan. Sebuah kekeliruan sederhana yang justru mencairkan suasana, menjadikan peliputan itu terasa lebih manusiawi dan penuh cerita.
Perjuangan mereka belum selesai. Setelah berhasil mendapatkan foto, target berikutnya adalah memperoleh quotes langsung dari Anies Baswedan. Mereka pun bertanya kepada takmir masjid dan disarankan menunggu di dekat pintu keluar.
Maka berlarilah tiga jurnalis muda itu, menyalip langkah demi langkah jamaah yang mulai meninggalkan lokasi. Ketika Anies Baswedan akhirnya muncul hendak keluar, para pengawal sempat menghalangi mereka karena mengira hanya ingin berfoto. Namun dengan napas yang masih tersengal, mereka menjelaskan bahwa mereka adalah tim jurnalis sekolah yang tengah menjalankan tugas liputan.
Beruntung, salah satu pengurus masjid membantu meyakinkan pihak pengawal. Kesempatan itu akhirnya datang.
Dengan tangan sedikit gemetar, mereka menyerahkan sebuah buku gambar besar untuk meminta pesan singkat dan tanda tangan. Beberapa detik kemudian, tinta itu menorehkan lebih dari sekadar tulisan. Ia menjadi simbol perjuangan, keberanian, dan mimpi tiga siswa yang malam itu belajar bahwa dunia jurnalistik bukan hanya tentang berita, tetapi juga tentang keberanian mendekati sejarah.
Malam mulai turun ketika mereka meninggalkan Masjid At-Taqwa. Wajah lelah mereka tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Sebelum pulang, mereka mengabadikan foto bersama—sebuah potret sederhana tentang tiga anak muda yang berhasil menaklukkan rasa takut demi sebuah cerita.
Dan mungkin, bertahun-tahun nanti, mereka akan mengenang malam itu sebagai awal mula mimpi besar yang diam-diam tumbuh di antara kerumunan, cahaya lampu masjid, dan suara kecil yang tanpa sengaja memanggil, “Mas Anies.”












