SURABAYA – Ada pemandangan tak lazim di selasar SMP Muhammadiyah 7 Surabaya pada Senin pagi, 27 April 2026. Alih-alih berkutat dengan lembar soal dan pensil, ratusan siswa kelas 9 justru sibuk dengan gunting, karton, pasir, dan wadah-wadah geometri.
Hari itu, Ujian Praktik (Uprak) Matematika tidak berjalan sebagai momok yang menakutkan. Sekolah ini memilih jalan yang lebih bermakna: memaksa siswa membuktikan sendiri kebenaran rumus volume kerucut dan tabung yang selama ini hanya mereka “telan” dari buku paket.
Melawan Budaya Menghafal
Dalam dunia pendidikan, rumus seringkali dianggap sebagai benda keramat yang wajib dihafal demi nilai. Namun, di SMPM 7 Surabaya, paradigma itu digeser. Melalui kerja kelompok yang intens, para siswa diminta melakukan eksperimen komparatif untuk memvalidasi secara fisik rumus.
Siswa harus membuktikan bahwa volume kerucut setara dengan sepertiga volume tabung, dengan syarat keduanya memiliki jari-jari (r) dan tinggi (t) yang identik.

Pasir dan Presisi: Laboratorium Hidup
Prosesnya terlihat sederhana namun menuntut ketelitian tinggi. Setiap kelompok mengisi pola kerucut dengan pasir hingga rata, lalu menuangkannya ke dalam pola tabung.
“Ternyata butuh tepat tiga kali tuang baru tabungnya penuh. Kalau cuma baca di buku rasanya abstrak, tapi setelah praktik sendiri, kami jadi tahu dari mana angka ‘sepertiga’ itu muncul,” ujar salah satu siswa di sela keriuhan praktik.
Metode learning by doing ini bukan tanpa alasan. Secara pedagogis, ketika siswa melihat langsung hubungan spasial antar bangun ruang, memori tersebut akan menetap jauh lebih lama dibandingkan sekadar menghafal deretan variabel di papan tulis.
Menghidupkan Logika dalam Kelompok
Kolaborasi menjadi kunci. Ada siswa yang bertugas memastikan akurasi diameter alas, ada yang menjaga presisi tinggi bangun, hingga tim yang melakukan pengujian volume. Kesalahan milimeter saja dalam pembuatan pola akan mengakibatkan pembuktian yang tidak akurat. Di sinilah nalar kritis dan ketelitian siswa diuji melampaui lembar soal pilihan ganda.
Metode hands-on learning ini membuktikan bahwa matematika adalah ilmu pasti yang bisa diraba dan dirasakan. Siswa diajak untuk tidak langsung percaya pada teks buku, melainkan menjadi “ilmuwan kecil” yang memvalidasi kebenaran ilmiah melalui proses.
Sekolahnya Para Pemimpin berhasil menunjukkan bahwa ujian nasional atau sekolah tidak harus kaku. Dengan membawa rumus keluar dari papan tulis dan memindahkannya ke tangan siswa, mereka tidak hanya mencetak lulusan yang pandai berhitung, tetapi generasi yang paham esensi.
Hari itu, di bawah langit Surabaya, matematika tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan, melainkan sebuah rahasia alam yang berhasil mereka pecahkan bersama.
Devita Permata Putri, S.Pd.












