SURABAYA – Inovasi metode pembelajaran bahasa asing kembali lahir dari kreativitas tenaga pendidik di Surabaya. Pada Rabu (28/04/2026), suasana kelas 8 Al-Hikmah di SMP Muhammadiyah 07 Surabaya yang berlokasi di kawasan Dupak Jaya V tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada deretan buku teks yang membosankan; sebagai gantinya, para siswa terlibat dalam debat sengit melalui permainan kartu Werewolf.

Kegiatan ini bukan sekadar permainan pengisi waktu, melainkan strategi pedagogis terukur untuk memecahkan kebuntuan kemampuan berbicara siswa. Di tengah tantangan rendahnya kepercayaan diri pelajar dalam berargumen menggunakan bahasa Inggris, penggunaan gamifikasi seperti Werewolf terbukti efektif memaksa siswa keluar dari zona nyaman mereka untuk mempertahankan posisi dalam narasi permainan.
Guru pengampu mata pelajaran, Ulul Albab atau yang akrab disapa Ustaz Al, menjelaskan bahwa integrasi permainan ini bertujuan mengasah empat keterampilan berbahasa Inggris secara simultan dengan fokus utama pada materi argumentative. Melalui simulasi ini, siswa tidak hanya belajar bicara, tetapi juga mendalami substansi materi argumentasi secara mendalam. Siswa diajak memahami struktur argumen yang mencakup pernyataan posisi (claim), alasan (reasoning), dan bukti (evidence), sekaligus mengasah teknik persuasif untuk meyakinkan orang lain. Selain itu, mereka belajar memberikan sanggahan atau counter-argument terhadap tuduhan lawan secara logis, serta melatih pola pikir analitis dalam mendeteksi inkonsistensi pernyataan lawan di bawah tekanan permainan.
“Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan keempat skill English, terutama pada bidang speaking dalam materi argumentative,” ujar Ulul saat ditemui di sela sela kegiatan. Menurut Ulul, dinamika permainan Werewolf yang mengharuskan pemain meyakinkan orang lain agar tidak tereliminasi menjadi motor penggerak utama. Proses ini memancing dan memaksa anak untuk berbicara demi bertahan hidup dalam game tersebut. Hasilnya sungguh di luar ekspektasi karena anak-anak yang di kelas biasanya diam ternyata bisa berbicara menggunakan bahasa Inggris, meskipun ia mencatat bahwa tantangan berikutnya tetap ada pada pembenahan tata bahasa dan pelafalan.
Respons siswa terpantau sangat positif, bahkan beberapa di antaranya enggan mengakhiri jam pelajaran. Salah satu murid, Ibra, menunjukkan betapa kompetitifnya suasana kelas saat ia mencoba meyakinkan rekan rekannya dalam bahasa Inggris. Ia menyatakan bahwa seharusnya rekan-rekannya mempercayainya sebagai Seer atau peramal, dan ia berambisi untuk menang jika mendapat kesempatan main kembali. Metode ini diharapkan menjadi model bagi sekolah sekolah lain dalam menerapkan kurikulum yang lebih adaptif dan interaktif, guna mencetak generasi yang fasih berkomunikasi secara global tanpa kehilangan rasa senang dalam belajar.
Ulul Albab












