Pernahkah kalian bertanya-tanya, mengapa narasi tentang perjalanan super dahsyat ini harus dibuka dengan frasa Subhanalladzii yang berarti Maha Suci Allah? Bagi jiwa muda yang kritis dan haus akan logika, pemilihan kata ini bukanlah sebuah kebetulan puitis semata. Ada sebuah kode rahasia yang ingin Allah sampaikan kepada kita mengenai intensitas peristiwa yang akan diceritakan.
Coba kalian bayangkan, di dalam tradisi kita sebagai Muslim, ucapan Subhanallah adalah respons spontan yang muncul saat kita menyaksikan sesuatu yang mind-blowing atau melampaui nalar manusia. Ketika kita menatap jutaan galaksi yang berputar di angkasa, melihat cara kerja matahari yang meledakkan energi tanpa henti, atau sekadar terpukau oleh presisi orbit planet bumi, lisan kita secara naluriah mengagungkan kesucian-Nya.
Untuk memahami frekuensi kekaguman ini secara lebih mendalam, mari kita pelajari beberapa ayat yang menggunakan asma Subhanallah sebagai acuan utama saat Allah mau bercerita tentang sesuatu yang luar biasa.
QS. Ali ‘Imran (3): 190-191
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
Melalui kacamata ayat diatas, kita diajak memahami bahwa frasa Subhanaka atau Mahasuci Engkau merupakan puncak dari kesadaran intelektual seorang Muslim saat menyaksikan keajaiban semesta yang bersifat extraordinary. Bagi jiwa muda yang gemar mengeksplorasi logika, kalimat ini bukan sekadar kata zikir biasa, melainkan sebuah instrumen untuk mengajak kita mengagumi kemahabesaran Allah yang mampu mendesain sistem langit dan bumi dengan presisi mutlak tanpa cacat sedikit pun. Ketika kita menyadari betapa dahsyatnya mekanisme penciptaan ini, secara naluriah kita akan menggemakan kemahasucian-Nya sebagai pengakuan bahwa di balik setiap fenomena saintifik yang rumit, terdapat otoritas Sang Khalik yang Maha Sempurna dan jauh dari segala bentuk kesia-siaan.
Q. S. Al-A’raf (7): 54
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ ۢ بِاَمْرِهٖٓۙ اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ٥٤
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa atas ʻArasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah! Hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam.
QS. Al Mu’minun (23): 14
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ١٤
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.
Dalam ayat diatas, frasa Fatabarakallahu hadir sebagai konklusi religius yang megah untuk merespons keajaiban proses biologis manusia, di mana menurut Imam Al Qurthubi, ungkapan ini menegaskan kemahasucian Allah dari segala bentuk sekutu sekaligus pengakuan atas keunggulan desain Ilahi yang tidak tertandingi. Dari perspektif akademik, tahapan embriologis yang sistematis ini menunjukkan adanya transisi materi yang sangat kompleks, yang kemudian ditutup dengan kalimat pengagungan untuk mengajak kita menyadari bahwa Allah adalah Ahsanul Khaliqin (Pencipta Terbaik). Melalui ayat ini, para pemuda diajak untuk merenungi bahwa kesempurnaan anatomi tubuh kita adalah laboratorium nyata bagi kemahasucian Allah, di mana setiap transformasi seluler yang terjadi merupakan bentuk tanda kebesaran yang seharusnya memicu rasa kagum spiritual yang mendalam.
Dan banyak lagi ayat-ayat yang mengajak kita untuk menga-gumi Kebesaran dan Kemaha-Sucian Allah. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini. QS. 25: 1, QS. 25: 10, QS. 25: 61, QS. 43: 85, QS. 59: 23, QS. 67: 1. Mengapa Allah memilih diksi ini untuk membuka ayat Isra’ Mi’raj? Ada pesan vibes ketuhanan yang sangat kuat di sana:
Melalui pemilihan kata ini, Allah seakan memberikan sebuah disclaimer eksklusif sejak awal bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan kejadian tingkat tinggi yang tidak dapat diukur dengan standar fisika konvensional, sekaligus bertindak sebagai pemicu kekaguman yang mengajak kita menyiapkan mental untuk memasuki narasi keajaiban yang jauh melampaui sistem tata surya. Penggunaan terminologi ini secara otomatis menegaskan otoritas mutlak Allah sebagai Sang Penguasa Jagat Raya yang tidak terikat oleh hukum materi, di mana Dialah sosok di balik transisi energi murni serta mekanisme anihilasi yang menjaga keseimbangan semesta. Dengan demikian, saat membaca kata pembuka tersebut, pikiran kita seharusnya langsung menangkap sinyal bahwa sesuatu yang luar biasa besar sedang terjadi sebagai bentuk pengakuan atas kemahaperkasaan Sang Arsitek Alam Semesta.
• Az-Zuhaili, Wahbah. (2009). Tafsir Al-Munir dalam Aqidah, Syariah, dan Manhaj. Jilid 4. Jakarta: Gema Insani.
• Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2004). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Terjemahan M. Abdul Ghoffar. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
• Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
• Purwanto, Agus. (2015). Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan. Bandung: Mizan.
• Hawking, Stephen. (1998). A Brief History of Time (Edisi Terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (Sebagai referensi pendukung diskusi ilmiah mengenai teori ruang waktu).
• Yahya, Harun. (2001). Mengenal Allah Melalui Akal. Jakarta: Robbani Press.
• Al-Qurthubi, Syaikh Imam. (2009). Tafsir Al-Qurthubi: Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Jilid 12. Jakarta: Pustaka Azzam.
• Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. (1993). Tafsir Al-Maraghi. Jilid 18. Semarang: CV Toha Putra.
Lucav










