Beranda / News / Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti prosesi Purnawiyata Angkatan ke-50 SMP Muhammadiyah 7 Surabaya

Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti prosesi Purnawiyata Angkatan ke-50 SMP Muhammadiyah 7 Surabaya

Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti prosesi Purnawiyata Angkatan ke-50 SMP Muhammadiyah 7 Surabaya yang digelar pada Kamis (18/6/2026). Perhelatan emas setengah abad sekolah yang beken dengan julukan Sekolahnya Para Pemimpin ini bukan sekadar seremoni kelulusan biasa, melainkan panggung pembuktian bagi generasi “Zero to Hero”.
Hajatan besar ini dihadiri langsung oleh jajaran elit persyarikatan tanpa diwakilkan. Mulai dari Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya Ustadz Diky Satqomullah, S.HI., M.HES, Ketua PCM Bubutan ir. H. Siswoyo, Ketua Majelis Dikdasmen PCM Bubutan Drs. Mustaqim, Ketua LAZISMU Kota Surabaya Faisal Haqiqi, SE, hingga Kepala SD Muhammadiyah 12 Surabaya Lin Hidayati, S.Pd.

Dari Satu Atap Masuk Siang, Kini Mencetak Pemimpin Bangsa

Nostalgia mendalam disampaikan oleh Ketua PCM Bubutan, ir. H. Siswoyo. Sebagai alumni angkatan ke-5, ia mengisahkan bagaimana sekolah ini bermula dari keterbatasan.
“Dulu angkatan saya, sekolah ini harus berbagi satu atap dengan SD Muhammadiyah 12 dan masuk siang. Tapi hari ini, usia emas setengah abad membuktikan sekolah ini sukses mencetak alumni hebat, mulai dari doktor hingga dosen di ITS. Ini bukti sahih kualitas kita,” kenang Siswoyo bangga.
Guna memacu semangat, Siswoyo langsung merogoh kocek pribadi memberikan apresiasi tunai sebesar Rp1.000.000 kepada Natasha R. Putri Purnomo, wisudawati yang sukses menuntaskan hafalan 13 Juz. Beliau juga berpesan agar para lulusan tidak ragu membidik sekolah lanjutan yang bermutu. “Jangan asal gratis. Kalau ada niat, Allah pasti mudahkan rezekinya.”
Senada dengan hal tersebut, Ketua Majelis Dikdasmen PCM Bubutan, Drs. Mustaqim, menitipkan pesan krusial terkait syiar dan komitmen hafalan Al-Qur’an.
“Jika ada hal yang kurang cocok, sampaikan langsung ke Kepala Sekolah. Namun jika itu kebaikan, sebarkan luas-luas. Khusus program tahfidz, jagalah hafalan kalian dan terus tambah, agar kelak bisa memberikan mahkota kemuliaan untuk orang tua di akhirat,” tutur Mustaqim.

Filosofi “Seng Soroh Mesti Dadi” dan 7 Mantra TANGGUH

Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya, Ustadz Diky Satqomullah, dalam tausiyahnya yang segar dan diselingi pantun, memuji kehadiran para tokoh yang lengkap tanpa perwakilan. “Ini tanda bahwa Sekolahnya Para Pemimpin akan melahirkan para pemimpin sejati, bukan sekadar wakil!” selorohnya disambut tepuk tangan hadirin.
Ustadz Diky menyoroti bagaimana sistem gemblengan kepemimpinan di SMP Muhammadiyah 7 kerap dinilai berat hingga memicu pro-kontra. Namun, di situlah letak kuncinya.
“Seng soroh mesti dadi (Yang berproses berat pasti jadi orang sukses). Orang sukses selalu punya cerita berdarah-darah, karena dari sanalah mental tangguh terbentuk,” tegasnya.
Untuk membekali para wisudawan, Ustadz Diky merangkum arah urat nadi perjuangan ke depan dalam 7 prinsip *TANGGUH*:
1. *T*eladan
2. *A*manah
3. *N*iat karena Allah
4. *G*igih berjuang
5. *G*erakkan (sebarkan kebaikan ke masyarakat luas)
6. *U*nggul dalam hal kebaikan
7. *H*umanis

“Dunia Dapat, Akhirat Selamat” dan Karakter Kepala Sekolah Petarung

Suasana makin menyentuh saat Ketua LAZISMU Surabaya, Faisal Haqiqi, SE, memberikan kesan dan pesannya. Sebagai orang tua siswa, Faisal mengaku matanya berkaca-kaca sejak awal acara melihat keteguhan spiritual anak-anak.
“Kalian luar biasa. Berpakaian rapi dan anggun bak habib. Cita-cita boleh setinggi dunia, tapi urusan akhirat—terutama shalat—harus didahulukan,” cetus Faisal.
Ia membagikan kisah reflektif tentang seorang rektor universitas ternama di Indonesia yang dirundung gelisah dan rasa malu di usia senja karena tidak bisa membaca Al-Qur’an.
“Kalian di sini beruntung. Agama dapat, dunia dapat. Bersyukurlah ditempa oleh ustadz dan ustadzah yang tulus,” tambahnya, sembari memuji karakter Kepala SMP Muhammadiyah 7, Imam Sapari. “Saya kenal beliau sejak lama. Tipe petarung yang selalu mengasah otak seperti pisau, konsisten membaca dan berinovasi.”
Mengakhiri purnawiyata emas ini, sebuah wejangan mendalam ditinggalkan untuk seluruh hadirin: “Jadilah orang baik, tapi jangan pernah merasa yang terbaik. Letakkan rasa syukur di nomor satu, baru rasa bangga di nomor sekian. Jika syukur sudah di hati, masa depan anak-anak kita akan menjadi jaminan mahkota di surga nanti.”

Rachell