
Terminologi kunci kedua adalah asraa, yang berarti ‘memperjalankan‘. Diksi ini esensial bagi pemahaman fundamental kita mengenai fenomena tersebut. Ia menegaskan bahwa trayektori transendental ini bukanlah inisiatif mandiri Rasulullah saw, melainkan sebuah manifestasi kehendak absolut Allah. Konklusi ini didasarkan pada informasi eksplisit dari Allah dalam ayat terkait bahwa seluruh peristiwa terjadi atas dekrit-Nya. Allah lah yang bertindak sebagai agensi penggerak bagi Nabi Muhammad saw.
Dalam konteks ini, kita mendapatkan ‘bocoran’ teoretis bahwa Rasulullah saw tidak memiliki kapasitas inheren untuk menempuh perjalanan tersebut atas kehendaknya sendiri. Sebagaimana akan saya elaborasi secara detail, parameter fisika dari perjalanan ini terlalu ekstrem untuk dieksekusi oleh entitas manusia. Jangankan figur manusia biasa, bahkan nabi pun tidak mampu jika tidak difasilitasi oleh Allah.
Konsekuensinya, Allah menugaskan Malaikat Jibril untuk memandu Nabi melintasi koordinat ruang dan waktu di alam semesta ciptaan-Nya. Jibril dipilih secara spesifik oleh Allah untuk mendampingi dalam navigasi kosmis ini karena Jibril adalah entitas dari langit ketujuh yang tersusun dari energi cahaya. Dengan konfigurasi tubuh cahayanya, Jibril memiliki kapabilitas untuk mentranspor Rasulullah saw melewati dimensi-dimensi transenden.
Perjalanan mereka juga didukung oleh Buraq, entitas berbasis cahaya dari alam malakut yang difungsikan sebagai tunggangan dalam trayektori tersebut. Secara etimologis, Buraq berasal dari kata Barqun yang berarti kilat. Maka, saat mengendarai Buraq, mereka bertiga bergerak dengan akselerasi yang mendekati kecepatan cahaya, yaitu sekitar 300.000 km per detik.
Di sinilah muncul diskursus dan kontradiksi saintifik. Dalam ranah Fisika Modern, diketahui bahwa limit kecepatan tertinggi di alam semesta adalah kecepatan cahaya. Tidak ada metrik kecepatan lain yang melampauinya. Kecepatan setinggi itu tidak dapat dicapai oleh sembarang entitas bermassa. Hanya entitas yang sangat ringan, bahkan harus tidak memiliki massa atau bobot absolut sama sekali, yang dapat mencapai metrik tersebut. Entitas bermassa, meskipun mendekati nol, tidak dapat berakselerasi hingga kecepatan cahaya. Yang dapat melakukannya hanyalah foton, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya. Bahkan elektron, yang massanya mendekati nol, tidak dapat mencapai limit tersebut.
Problem fundamental muncul dalam menjelaskan fenomena Isra’. Malaikat Jibril dan Buraq adalah makhluk cahaya dengan konfigurasi tubuh tersusun dari foton-foton, sehingga tidak memiliki kendala inersia untuk bergerak dengan kecepatan cahaya yang ekstrem tersebut. Sebaliknya, Rasulullah saw adalah manusia biasa dengan tubuh yang tersusun dari atom-atom kimiawi bermassa.
Jika kita melakukan analisis komposisi materi tubuh manusia, kita akan mendapati bahwa tubuh tersusun dari organ-organ seperti otak, jantung, paru-paru, hepar, otot, tulang, dan sebagainya. Organ-organ ini juga tersusun dari unit-unit biologis yang lebih kecil yang disebut sel, mulai dari sel jantung hingga sel saraf. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa berbagai sel ini tersusun dari molekul-molekul, mulai dari yang sederhana seperti H2O hingga rantai polimer asam amino atau protein kompleks.
Secara detil, molekul-molekul itu juga tersusun dari unit-unit konstituen yang lebih kecil yang disebut atom. Terdapat miliaran atom yang menyusun tubuh manusia. Atom-atom tersebut juga tersusun dari partikel-partikel subatomik seperti proton, neutron, dan elektron. Seluruh bagian penyusun ini terikat satu sama lain oleh energi ikat (binding energy) untuk mencegah disintegrasi. Partikel-partikel subatomik membentuk atom; atom-atom membentuk molekul; molekul-molekul membentuk sel; dan sel-sel berkolaborasi membentuk organ dan tubuh. Seorang manusia, dengan demikian, memiliki massa yang signifikan, berpuluh-puluh kilogram. Maka, entitas bermassa sedemikian berat tentu tidak dapat diakselerasi hingga limit kecepatan cahaya, sebagaimana foton-foton cahaya yang tidak memiliki massa rest.
Guna memahami betapa krusialnya peran binding energy dalam menjaga integritas struktur biologis kita, mari kita proyeksikan pada skala makroskopis yang lebih sederhana. Bayangkan tubuh manusia adalah sebuah bangunan megah yang tersusun dari miliaran batu bata magnetik yang saling mengunci dengan kekuatan daya tarik yang sangat spesifik. Dalam kondisi stasioner atau kecepatan normal, daya magnetis ini (energi ikat) sangat dominan sehingga bangunan tetap kokoh. Namun, ketika bangunan tersebut dipaksa bergerak dengan akselerasi yang mendekati limit kecepatan cahaya, muncul gaya inersia raksasa yang bekerja seperti badai kinetik ekstrem yang mencoba merenggut setiap batu bata dari kunciannya. Jika gaya eksternal ini melampaui kekuatan magnetis antar batu bata, maka secara matematis bangunan tersebut tidak akan hancur menjadi puing, melainkan terurai total kembali menjadi debu-debu subatomik yang tercerai-berai di ruang hampa.
Sejauh ini kita bisa menyimpulkan bahwa dengan adanya faktor Binding Energy, jika kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk berlari seperti flash bahkan melebihi kecepatan cahaya maka tubuh kita akan terurai sebelum sampai ke tempat yang diinginkan. Akan kita jelaskan detailnya lenbih lanjut di part berikutnya.
Einstein, Albert. (1905). On the Electrodynamics of Moving Bodies (Zur Elektrodynamik bewegter Körper). Annalen der Physik. (Referensi fundamental mengenai limitasi kecepatan cahaya bagi benda bermassa).
Salam, Abdus. (1987). Ideals and Realities: Selected Essays of Abdus Salam. World Scientific Publishing. (Memberikan perspektif bagaimana seorang fisikawan Muslim melihat hubungan antara wahyu dan hukum alam).
Tipler, Frank J. (1994). The Physics of Immortality. New York: Doubleday. (Diskusi mengenai kemungkinan transmisi informasi dan materi dalam kecepatan cahaya melalui konsep fisika kuantum).
Lucav











