SURABAYA— Ada yang lebih bergetar dari sekadar riuh tepuk tangan di ruang wisuda pagi ini, Rabu (20/5). Ia adalah gema ayat-ayat suci yang beberapa hari lalu diuji, yang hari ini menjelma mahkota tak kasat mata di kepala para penjaga kalam ilahi.
Ketika waktu bergeser ke pertengahan Mei 2026, tepatnya pada Selasa (12/5) pekan lalu, sudut-sudut kota Surabaya menjadi saksi sebuah perhelatan sunyi yang riuh dengan spiritualitas: Munaqosyah dan wisuda ke VI Tahfidzul Qur’an SMP/MTs Muhammadiyah se-Surabaya. Di sinilah, sebuah jargon tidak lagi berdiri sebagai barisan kata mati, melainkan mewujud raga.
SMP Muhammadiyah 7 Surabaya (SMPM 7) kembali menepati janjinya. Slogan “Qur’ani, Tangguh, Cerdas, Berprestasi” yang kerap mereka dengungkan, terbukti bukan sekadar mantra pelipur lara, melainkan kompas yang menuntun anak-anak muda ini merajai puncak prestasi. Mereka tidak hanya hadir; mereka mendominasi.

Menenun Cahaya di Puncak Regional
Langkah kaki Denada Liafhirotin Najwa di wilayah SMPM 2 pada Selasa kelabu itu mungkin tampak tenang. Namun di balik ketenangannya, ada ketangguhan yang sedang diuji. Dari bibirnya, mengalir lancar untaian Juz 30, 29, hingga merangkak naik ke Juz 1 sampai 5.
Tujuh juz diselesaikan dengan total nilai 89. Angka yang mengukuhkan namanya sebagai Peserta Terbaik Wilayah. Denada adalah pembuka gerbang bagi gelombang pembuktian SMPM 7 yang lebih besar di tingkat kota.
Keberhasilan ini tidak tumbuh dari ruang kosong. Di balik layar, ada ketelatenan tanpa henti dari para pendidik. *Dwi Nuryani, Kepala Urusan (Kaur) Ismuba SMPM 7*, dengan mata berkaca-kaca menyampaikan rasa syukurnya atas capaian anak-anak didiknya.
“Melihat anak-anak berdiri di podium terbaik adalah buah dari istikamah yang panjang. Ini bukan sekadar menghafal angka dan huruf, tapi tentang bagaimana menanamkan cinta pada Al-Qur’an di hati mereka sejak dini. Hasil hari ini adalah bukti bahwa air mata dan peluh saat mendampingi mereka murajaah setiap hari telah dibayar tunai oleh Allah,”* ujar Dwi Nuryani penuh haru.
Dominasi Para Penjaga Ayat se-Surabaya
Jika tingkat wilayah adalah riak, maka tingkat Se-Surabaya adalah gelombang besarnya. Pada lembar pengumuman tertinggi, nama-nama dari sekolah berjuluk “Sekolahnya Para Pemimpin ini bertebaran layaknya bintang di langit malam.
Di kelompok tangguh para pemuda, *Alvaro Kenzie* melesat di peringkat ketiga. Sembilan juz (Juz 30-26 dan 1-4) dirapal hampir tanpa celah, membuahkan angka magis: 99. Nyaris sempurna. Namun bagi Alvaro, pencapaian ini barulah sebuah babak pembuka dari mimpi yang jauh lebih besar. Remaja berprestasi ini menyimpan ambisi suci yang terinspirasi dari jejak para seniornya.

“Nilai 99 dan 9 juz ini saya persembahkan untuk orang tua dan guru-guru saya. Tapi perjalanan saya belum selesai. Saya sangat termotivasi oleh kakak-kakak alumni SMPM 7 yang ketika melanjutkan ke SMA mampu mengkhatamkan hafalan hingga menjadi hafidz 30 juz. Target saya, saat mengenakan seragam putih-abu-abu nanti, saya harus menyusul jejak mereka, menjaga seluruh isi Al-Qur’an di dalam dada saya,”* ungkap Alvaro dengan tatapan mata yang mantap dan penuh keyakinan.
Tak jauh di belakang Alvaro, *Defano Bagus Witar W* mengunci posisi kelima dengan tabungan 8 juz dan nilai 91. Mereka adalah representasi pemuda modern yang meletakkan dunia di tangan, dan Al-Qur’an di ingatan.
Namun, panggung utama kali ini tampaknya menjadi milik para srikandi. *Natasya R Putri Purnomo* berdiri di podium tertinggi kelompok perempuan. Angka 13 di kolom jumlah juz miliknya bukan sekadar statistik; itu adalah manifestasi dari malam-malam sepi yang dihabiskan bersama lembaran mushaf. Dari Juz 30 hingga melangkah jauh ke Juz 8, Natasya menancapkan benderanya di peringkat pertama se-Surabaya. Tepat di bawahnya, sang saudari seperjuangan, *Zahra Nur Firda Munier*, menyusul dengan keanggunan 12 juz dan torehan nilai impresif 92.
Seuntai Hikmah dari Lembar Kelulusan
Menyaksikan total 5 nama dari satu atap sekolah yang sama menduduki takhta terbaik, kita sedang tidak hanya membicarakan tentang kecerdasan kognitif. Ini adalah manifesto keberhasilan sebuah ekosistem pendidikan yang seimbang.
*Imam Sapari, Kepala Sekolah SMPM 7 Surabaya*, menegaskan bahwa prestasi ini adalah penegasan kembali identitas sekolah yang dipimpinnya. Jargon sekolah kini telah bertransformasi menjadi karakter yang melekat pada diri siswa.
“Kami di SMPM 7 selalu berkomitmen bahwa mencetak generasi unggul harus dimulai dari fondasi spiritual yang kokoh. Hari ini, anak-anak kita telah membuktikan bahwa jargon ‘Qur’ani, Tangguh, Cerdas, Berprestasi’ itu hidup di dalam nadi mereka. Kami tidak hanya mengantarkan mereka menjadi juara di atas kertas munaqosyah, tapi kami sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang berkarakter Qur’ani,”* tegas Imam Sapari dengan nada penuh kebanggaan profesional.
Hari ini, Rabu (20/5), saat prosesi wisuda digelar, air mata haru orang tua dan senyum bangga para guru adalah upah tunai atas lelah yang terbayar. Jargon itu telah mewujud nyata. SMPM 7 Surabaya tidak hanya melahirkan siswa yang siap menjawab tantangan zaman, tetapi juga mencetak generasi yang jiwanya terpaut pada langit.
Mereka telah mengaji, mereka telah menguji diri, dan hari ini… mereka menginspirasi bumi Surabaya.
Rachell Fattama Az Zahrah












