Beranda / News / Stop Normalisasi! 7 Sikap Anak yang Ternyata Masuk Kategori Durhaka dalam Islam

Stop Normalisasi! 7 Sikap Anak yang Ternyata Masuk Kategori Durhaka dalam Islam

pwmu.co –Definisi Durhaka Lebih dari Sekadar Membangkang

Dalam khazanah etika dan spiritual, durhaka atau uququl walidain secara etimologis berarti “memutus” atau “memotong”. Secara maknawi, durhaka adalah segala bentuk ucapan, perbuatan, maupun sikap anak yang menimbulkan luka hati, kesedihan, atau merendahkan martabat orang tua.

Kedurhakaan tidak selalu berupa tindakan ekstrem yang tampak oleh mata. Ia sering bermula dari hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus hingga melunturkan nilai hormat dan takzim kepada orang tua.

7 Fenomena “Kedurhakaan Halus” yang Dinormalisasi

Di era digital, banyak perilaku yang sebenarnya tidak beradab justru dianggap sebagai bentuk modernitas. Berikut tujuh tanda yang perlu diwaspadai:

1. Menjawab dengan Nada Tinggi
Sering dianggap sebagai sikap “kritis” atau ekspresi kejujuran. Padahal, membentak atau memotong pembicaraan orang tua adalah pelanggaran adab yang nyata. Ironisnya, sebagian orang tua justru bangga ketika anak berani berargumen. Batas antara diskusi sehat dan sikap tidak sopan pun menjadi kabur. Ketika anak terbiasa memotong pembicaraan atau menggunakan nada tinggi saat tidak setuju, dan hal itu dianggap sebagai “kecerdasan verbal”, di situlah normalisasi durhaka mulai terjadi.

2. Pengabaian Digital (Phubbing)
Istilah phubbing (phone snubbing) terjadi ketika anak lebih fokus pada gawai saat diajak berbicara oleh orang tua. Hal ini sering dimaklumi dengan alasan “anak muda memang seperti itu”. Padahal, ini adalah bentuk pengabaian terhadap keberadaan orang tua. Jika dibiarkan, anak akan kehilangan rasa hormat terhadap kehadiran mereka.

3. Merasa Lebih Pintar
Di era teknologi, anak sering lebih menguasai berbagai hal seperti AI, tren, dan gadget. Kondisi ini dapat membalik posisi hierarki, sehingga anak merasa lebih “pintar” dan mulai meremehkan nasihat orang tua yang dianggap ketinggalan zaman.

4. Eksploitasi Konten
Orang tua dijadikan bahan candaan atau konten di media sosial, seperti prank atau menampilkan kekurangan dan kepolosan mereka demi “likes” dan “views”. Ironisnya, sebagian orang tua ikut tertawa karena menganggapnya sekadar hiburan. Padahal, hal ini dapat meruntuhkan muruah (kehormatan) orang tua dan menghilangkan rasa segan anak.

5. Mentalitas Tuan
Anak memandang orang tua sebagai “pelayan”. Rasa sayang yang berlebihan terkadang membuat orang tua memanjakan anak hingga anak merasa dilayani adalah hak. Ketika anak menyuruh tanpa kata “tolong” atau “terima kasih” untuk hal yang bisa dilakukan sendiri, itu tanda lunturnya rasa hormat.

6. Sindiran dan Curhat di Media Sosial
Alih-alih menyelesaikan masalah secara langsung, anak justru menyindir orang tua melalui media sosial. Hal ini sering dianggap sebagai “pelampiasan emosi”. Padahal, tindakan tersebut melanggar privasi dan merusak kehormatan keluarga di ruang publik.

7. Hilangnya Budaya Meminta Izin
Sebagian anak merasa tidak perlu meminta izin atau restu orang tua untuk keputusan penting karena merasa sudah mandiri. Sikap ini sering dianggap sebagai bentuk kemandirian. Padahal, hal ini dapat memutus komunikasi dan mengurangi peran orang tua dalam kehidupan anak.

Landasan Etika dari Langit

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan jangan membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi:

رِضَى اللهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فِي سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ

“Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan keduanya.”

Dampak ke Depan bagi Anak

Normalisasi perilaku tanpa adab ini membawa dampak serius, antara lain:

  • Hilangnya keberkahan hidup
    Kedurhakaan dapat menutup pintu kemudahan dalam karier maupun kehidupan keluarga.
  • Lahirnya generasi tanpa empati
    Anak yang terbiasa meremehkan orang tua cenderung sulit menghargai orang lain di lingkungan sosial dan profesional.
  • Siklus karakter
    Perilaku anak hari ini berpotensi terulang pada generasi berikutnya.

Sikap Orang Tua yang Diperlukan

1. Tidak Terlalu Permisif
Menyayangi bukan berarti membolehkan segala hal. Anak membutuhkan batasan untuk belajar menghargai orang lain.

2. Keteladanan (Uswah)
Tunjukkan sikap hormat kepada orang yang lebih tua di hadapan anak. Adab lebih mudah diteladani melalui tindakan.

3. Tegur dengan Prinsip
Jangan diam ketika anak bersikap tidak sopan. Tegur dengan tenang namun tegas, dan jelaskan bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.

4. Doa yang Tak Putus
Teruslah mendoakan anak agar dianugerahi akhlak mulia, karena hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT.

Penutup

Adab adalah warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak. Dengan tidak menormalisasi perilaku yang salah, kita sedang menjaga masa depan mereka dari kerugian di dunia maupun akhirat. (*)

Oleh : Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I

Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya dan Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya

pwmu.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *