SURABAYA — Suasana Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Muhammadiyah 7 Surabaya—yang akrab disapa Sekolahnya Para Pemimpin—berlangsung tak biasa pada Kamis (27/8/2026). Di balik riuh lomba keagamaan, ajang ini disulap menjadi panggung edukasi linguistik berhadiah sepatu hingga pengukuhan generasi baru pemimpin muda.
Kejutan bermula saat Kepala Sekolahnya Para Pemimpin, Imam Sapari, memberikan sambutan pembuka. Di hadapan ratusan siswa, guru, dan karyawan yang memadati arena acara, pria yang akrab disapa Gus Imsap ini mendadak melontarkan kuis yang bikin gempar.
“Di masyarakat sering terdengar istilah Maulid dan Maulud Nabi. Sebenarnya apakah kedua istilah itu berbeda, padahal hanya beda satu huruf saja? Ada yang tahu jawabannya?” tanya Gus Imsap.
Hening sejenak menyelimuti ruangan. Melihat para siswa dan guru saling pandang, Gus Imsap melipatgandakan tensi tantangan. “Yang bisa jawab, saya kasih sepatu!” lanjutnya.
Meski imbalan sepasang sepatu sudah di depan mata, seluruh hadirin tetap terdiam penasaran. Tersenyum melihat kebingungan massa, Gus Imsap lantas membeberkan rahasianya agar warga sekolah tidak sekadar taqlid buta.
“Jadi, keduanya memang berbeda. “Maulid” merujuk pada peristiwa perayaan atau hari/waktu lahirnya Nabi. Sedangkan “Maulud” adalah sosok pribadi yang dilahirkan, yaitu bayi Nabi Muhammad SAW. Jadi, di perayaan Maulid ini saya berikan ilmunya supaya kita makin paham,” terang Gus Imsap disambut tepuk tangan riuh.
Inkubasi Pemimpin Lewat CLA dan Ashabul Kahfi
Tak berhenti pada kuis interaktif, momen PHBI ini juga dimanfaatkan sekolah untuk mengukuhkan 16 siswa terpilih ke dalam dua komunitas elite berkarakter kepemimpinan: 7 siswa Division Central Leader Agency (CLA) dan 9 siswa Ashabul Kahfi.
Koordinator CLA, Almas Rizkullah, menjelaskan bahwa CLA dirancang sebagai wadah akselerasi bagi siswa untuk belajar kepemimpinan di berbagai bidang kerja. “CLA ini bisa dikatakan sebagai asisten guru sekaligus partner kerja sama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Di sini mereka belajar leadership secara langsung di berbagai lini pekerjaan yang sudah ditentukan,” jelas Almas.
Sementara itu, untuk komunitas Ashabul Kahfi, fokus pengabdian bergeser ke ranah spiritual dan sosial. Kepala Urusan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Ismuba), Ustadzah Dwi, menuturkan bahwa para anggota Ashabul Kahfi disiapkan menjadi ujung tombak dakwah sekolah.
“Mereka akan mengimplementasikan ilmu berdakwah langsung di masjid. Tugasnya nyata, mulai dari menjadi muadzin, imam shalat, menyampaikan ceramah, hingga menjaga kebersihan masjid,” tutur Ustadzah Dwi.
Kemeriahan perayaan kemudian ditutup dengan atmosfer kompetisi yang hangat. Rangkaian lomba keagamaan seperti Kaligrafi, Cerdas Cermat Islam (CCI), Adzan, Syahril Qur’an, hingga Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) menjadi ajang pembuktian bakat para siswa di Sekolahnya Para Pemimpin tersebut.











