Beranda / Berita / Setengah Abad Mencetak Juara, SMP Muhammadiyah 7 Surabaya Kukuhkan Angkatan Emas dengan Prestasi Sempurna

Setengah Abad Mencetak Juara, SMP Muhammadiyah 7 Surabaya Kukuhkan Angkatan Emas dengan Prestasi Sempurna

SURABAYA – Sejarah baru saja diukir dengan tinta emas di Sekolahnya Para Pemimpin, SMP Muhammadiyah 7 (M7) Surabaya. Untuk pertama kalinya, pucuk tertinggi hierarki kepemimpinan siswa berhasil ditembus oleh duo srikandi berprestasi internasional. Mereka bukan sekadar pintar di atas kertas, melainkan figur tangguh yang berhasil mengawinkan takwa, medali, dan nilai akademik premium.

Di posisi puncak, Zahra Nur Firda Munier sukses menahbiskan dirinya sebagai lulusan terbaik sepanjang sejarah sekolah dengan menyabet pangkat Ledtum (Leader Utama) Bintang Empat. Menempel ketat di belakangnya, Natasha R. Putri Purnomojuga menorehkan prestasi gemilang dengan menyandang pangkat Lettum.
Bagaimana kedua remaja ini menaklukkan ekosistem M7 yang terkenal dengan kedisiplinan tingkat tinggi? Berikut adalah potret perjalanan spiritual, mental, dan fisik dua pemimpin masa depan.

Zahra Nur Firda Munier: Sang Pemilik 4 Bintang, Penghafal 12 Juz

Melihat rekam jejak Firda—sapaan akrabnya—orang mungkin akan geleng-geleng kepala. Ia mengantongi hafalan 12 juz Al-Qur’an, rentetan prestasi olahraga tingkat internasional, dan menutup masa sekolahnya dengan rata-rata nilai akademik fantastis: 92,46.
“Kuncinya ada pada manajemen prioritas. Saya punya jadwal harian yang ketat dari pagi sampai malam. Kalau ada jadwal yang bentrok, di situlah kedewasaan kita diuji untuk menimbang mana yang harus didahulukan,” ujar Firda mantap.

Role Model, Sentuhan Ibu, dan Tempaan HW Camp

Dibalik ketangguhannya, Firda mengaku pernah berada di titik terendah saat menghadapi kegagalan. Di saat down, ia selalu mengingat dua sosok guru di sekolahnya.
“Saya melihat Miss Rachell itu keren sekali. Beliau seorang atlet, tapi akademiknya juga luar biasa bagus. Sementara untuk urusan spiritual, saya selalu ingat pesan Ustadz Almaz bahwa dunia ini hanya sementara dan akhirat selamanya. Itu yang membuat saya bangkit: melakukan yang terbaik untuk bekal akhirat,” kenangnya.

Selain motivasi internal, Firda menyebut ibunya sebagai jangkar kekuatannya. “Ibu saya luar biasa. Di mana pun saya latihan, pasti ditungguin dan diperhatikan.”
Bagi Firda, kurikulum di M7 memang berat, namun itulah yang membentuk karakternya. Salah satu momen paling berkesan adalah saat mengikuti HW (Hizbul Wathan) Camp.
“Program-program di M7 itu tidak ada di sekolah lain. Di HW Camp, jiwa leadership kami benar-benar diperas. Kami diajar mandiri: masak nasi sendiri, mendirikan tenda sendiri. Prosesnya berat, tapi percayalah, itu pelajaran hidup yang tidak akan didapat di sekolah lain,” tambah Firda yang membidik target hafalan 15 juz di bangku SMA, kuliah di Jurusan Olahraga Unesa, dan bercita-cita menjadi pebisnis sukses.

Natasha R. Putri Purnomo: Filosofi Live in the Moment & Amanah Almarhum Ayah

Tidak kalah bersinar, Natasha R. Putri Purnomo mengunci posisi Lettum dengan raihan hafalan 13 juz Al-Qur’an, prestasi pencak silat tingkat **internasional, dan rata-rata akademik 92,33.
Berbeda dengan Firda yang memiliki jadwal terstruktur, Natasha menerapkan filosofi hidup yang unik: Live in the moment (hidup seutuhnya di momen saat ini).
“Saya tidak punya strategi belajar khusus dan tidak ikut les sama sekali. Kuncinya hanya fokus total. Saat jam pelajaran, saya fokus belajar. Ada PR, langsung saya selesaikan saat itu juga. Untuk hafalan, saya maksimalkan di jam BTQ dan takhasus. Saat jadwal Tapak Suci tiba, saya latihan total. Dan begitu sampai di rumah, itu adalah waktu istirahat tanpa gangguan apa pun,” beber Natasha taktis.

Bisikan Pelatih dan Janji pada Almarhum Ayah

Jika kejenuhan melanda akibat jadwal yang bertubi-tubi, Natasha memilih untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, lalu kembali tancap gas. Namun, bahan bakar terbesar yang membuatnya mampu bertahan di jalur prestasi adalah sebuah memori mendalam tentang sang ayah.
“Saat saya capek dan ingin menyerah, yang berputar di otak saya adalah pesan almarhum Ayah. Beliau sangat ingin anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an. Kalau di arena silat, yang terngiang adalah ucapan para pelatih bahwa saya punya potensi jadi atlet besar. Itu yang membakar semangat saya lagi,” ungkapnya emosional.

Sekolah yang Tanggap Membaca Potensi

Keberhasilan Firda dan Natasha tidak lepas dari kejelian M7 dalam memfasilitasi bakat siswanya. Salah satu langkah revolusioner sekolah adalah langsung mendirikan Pimpinan Cabang (Pimcab) Tapak Suci di lingkungan sekolah tepat saat kedua siswi ini masuk di kelas 7.
“Langkah sekolah ini sangat membantu. Kami tidak perlu lagi membuang waktu dan energi untuk berpindah tempat latihan ke luar sekolah,” puji Natasha.

Pesan untuk Generasi Penerus

Menutup obrolan, Natasha membagikan formula spiritualnya yang menjadikannya tangguh menghadapi dinamika remaja:
“Lakukan yang terbaik sebisamu, lalu bernadzarlah. Jika punya hajat, dirikan shalat tahajjud. Mengenai hasil akhir, ingatlah bahwa Allah SWT adalah sutradara terbaik. Apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu. Dan jika sesuatu tidak kita dapatkan, pasti ada rencana Allah yang jauh lebih besar dari apa yang kita pikirkan.”
Dengan mentalitas baja seperti ini, melangkah ke jenjang SMA bukan lagi soal adaptasi, melainkan ruang penaklukan baru. Firda bersiap menembus target hafalan belasan juz dan dunia entrepreneurship, sementara Natasha bersiap menjadi hafizah yang terbang ke luar negeri gratis lewat jalur prestasi. Indonesia, bersiaplah menyambut dua pemimpin masa depan ini!

Rachell