Beranda / News / Gagal Puasa Sebelum Maghrib: Menjual Akhlak Demi Konten dan Nongkrong Malam

Gagal Puasa Sebelum Maghrib: Menjual Akhlak Demi Konten dan Nongkrong Malam

Ramadhan seharusnya menjadi madrasah ruhani untuk menyucikan jiwa. Namun, jika kita melihat realitas remaja muslim saat ini, ada fenomena paradoks yang mengkhawatirkan. Di satu sisi mereka menahan lapar dan haus, namun di sisi lain, mereka terjebak dalam “Puasa Semu”—sebuah kondisi di mana raga berpuasa, namun adab dan jempol tetap “berpesta” dalam maksiat.

Tragedi di Balik Layar : Dosa Jariyah Era AI

Dunia maya telah menjadi Digital Abyss (jurang digital) bagi remaja kita. Penggunaan teknologi AI untuk membuat konten deepfake atau editan manipulatif demi menjatuhkan martabat orang lain bukan lagi sekadar candaan, melainkan kebatilan nyata. Belum lagi budaya cyber-bullying dan konsumsi konten vulgar yang merusak kesucian mata.

advertise SPMB SMP MUHAMMADIYAH 7 SBY

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan jauh-jauh hari tentang kualitas puasa seperti ini:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar.” (HR. Ibnu Majah No. 1680).

Jempol yang sibuk menebar fitnah digital adalah bukti bahwa puasa lisan telah gagal. Allah SWT berfirman mengenai bahaya lisan (dan tulisan):

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18).

Euforia Semu: Antara Angkringan dan Shaf yang Kosong

Di dunia nyata, Ramadhan kerap bergeser menjadi sekadar festival sosial. Fenomena nyangkruk atau nongkrong di angkringan hingga melalaikan Tarawih, hingga aksi berbahaya seperti perang sarung dan balap liar, menunjukkan hilangnya esensi ibadah. Buka bersama (bukber) yang seharusnya menyambung silaturahim pun tak jarang berubah menjadi majelis ghibah, PDKT, CLBK bahkan berujung Zina atau perselingkuhan.

Padahal, meninggalkan sesuatu yang bermanfaat demi kesia-siaan adalah kerugian besar:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi No. 2317).

Bahaya Laten: Ini gak bisa dibiarkan, Begini Jadinya Jika Dibiarkan?

Jika fenomena ini dibiarkan berlarut-larut, kita tidak hanya kehilangan pahala puasa, tetapi sedang mempertaruhkan masa depan bangsa. Ada 3 (tiga) bahaya besar yang mengintai:

  1. Normalisasi Dosa

Remaja akan menganggap bahwa maksiat digital adalah hal lumrah asalkan tetap menahan lapar. Ini menciptakan generasi munafik secara spiritual.

  • Degradasi Mental & Empati

Fitnah AI dan cyber-bullying mematikan rasa empati. Masyarakat akan tumbuh menjadi pribadi yang gemar berkonflik dan sulit membedakan kebenaran dari kebatilan.

  • Hilangnya Keberkahan Generasi

Ramadhan adalah momentum perubahan. Jika momentum ini gagal dimanfaatkan, kita akan memiliki generasi yang mahir teknologi namun kosong dari nilai ketuhanan (atheis secara perilaku).

  • Usulan Langkah Strategis: Sinergi Menyelamatkan Generasi Masa Kini

Memperbaiki kondisi ini memerlukan kerja kolektif, bukan sekadar saling menyalahkan:

  • Orang Tua (Benteng Utama)

Harus mengedepankan prinsip Muraqabah (merasa diawasi Allah). Ingatkan anak bahwa Allah melihat apa yang mereka scroll di kesunyian malam. Jadilah teladan (uswah) dengan tidak ikut-ikutan menyebar hoaks di grup WhatsApp.

  • Guru & Sekolah (Pusat Literasi)

Perlu menyusun kurikulum “Fikih Digital”. Ajarkan bahwa UU ITE bukan hanya ancaman penjara, tapi ada ancaman dosa jariyah yang mengalir hingga liang lahat.

  • Ustadz & Tokoh Agama (Pendekatan Rangkulan)

Dakwah harus keluar dari mimbar. Datangi angkringan, masuk ke TikTok dan Reels. Gunakan bahasa generasi Z untuk menjelaskan bahwa Islam itu keren tanpa harus kehilangan adab.

  • Pemerintah (Regulator):

Patroli siber harus lebih tajam terhadap konten vulgar dan provokatif selama bulan suci, diiringi dengan penyediaan ruang publik yang positif bagi pemuda untuk berekspresi.

Penutup

Kita tidak sedang berperang melawan teknologi, tapi kita sedang berperang melawan kelalaian hati. Jangan sampai Ramadhan tahun ini hanya menjadi ritual perpindahan jam makan, sementara akhlak kita tetap jalan di tempat—atau bahkan merosot ke jurang kebatilan.

Sesuai perintah Allah SWT untuk menjaga diri dan keluarga:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Mari jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum “Detoks Adab” dan “Tobat Digital”. Sebelum terlambat, sebelum puasa kita benar-benar dinyatakan gagal oleh Sang Pencipta.

Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I

Ketua Majelis Tabligh PDM dan Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *