إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
Terjemahan
“Sekiranya kiamat terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada sebuah bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat itu terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)
Analisis & Tafsir Per Potongan Kalimat
- “Sekiranya kiamat terjadi…”(إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ)
Kalimat ini menggambarkan situasi puncak keputusasaan. Kiamat adalah akhir dari segala rencana, ambisi, dan masa depan manusia di bumi. Nabi Muhammad SAW sengaja menggunakan perumpamaan kiamat untuk menunjukkan bahwa tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk berhenti bergerak, bahkan dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan sekalipun.
- “…sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada sebuah bibit kurma…” (وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ)
Bibit kurma (fasiilah) adalah simbol potensi kecil. Kurma membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan berbuah. Di sini kita diajarkan bahwa sekecil apa pun potensi atau sumber daya yang kita miliki saat ini, ia tetap memiliki nilai. Allah tidak menuntut kita memegang “pohon yang sudah berbuah”, tapi Allah SWT melihat apa yang ada di tangan kita hari ini.
- “…maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat itu terjadi…” (فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا)
Bagian ini menekankan pada peluang dan kemampuan. Selama nafas masih ada, selama akal masih berfungsi, dan selama ada kesempatan sebelum maut atau kehancuran tiba, maka kewajiban untuk beramal belum gugur. Ini adalah panggilan untuk memanfaatkan sisa waktu yang sempit dengan efektivitas maksimal.
4. “…hendaklah ia menanamnya.” (فَلْيَفْعَلْ)
Inilah perintah intinya adalah “Segera Eksekusi”. Nabi Muhammad SAW tidak mengatakan “hendaklah ia berdoa” atau “hendaklah ia pasrah”, melainkan “hendaklah ia menanam”. Agama ini adalah agama aksi. Nilai kemanusiaan kita ditentukan oleh apa yang kita kerjakan pada detik terakhir hidup kita.
Penjelasan & Refleksi Mendalam
Fokus pada Proses, Bukan Hasil
Secara logika, menanam saat kiamat adalah kesia-siaan. Tidak akan ada panen. Namun, hadits ini menghancurkan logika materialistik kita. Allah ingin mengajar bahwa pahala tidak turun pada “buah” yang berhasil dipetik, melainkan pada “peluh” saat menanam. Ini adalah obat bagi kita yang sering merasa gagal hanya karena usaha kita belum terlihat hasilnya.
Optimisme Radikal
Di era doomscrolling saat ini, di mana berita buruk tentang masa depan memenuhi layar ponsel kita, hadits ini adalah oase. Ia memerintahkan kita untuk tetap menanam kebaikan, tetap belajar, dan tetap berkarya, meski dunia diprediksi akan hancur besok. Ini adalah bentuk optimisme yang melampaui logika duniawi.
Ikhlas Tanpa Syarat
Menanam sesuatu yang Anda tahu tidak akan pernah Anda nikmati hasilnya adalah puncak dari keikhlasan. Kita berbuat baik bukan untuk pamer atau mengejar statistik, melainkan karena kita adalah “penanam” yang diperintahkan oleh Sang Pencipta untuk terus menebar manfaat hingga garis finis.
Kesimpulan & Penutup
Tugas kita sebagai manusia bukanlah untuk memastikan dunia ini selalu baik-baik saja, karena itu adalah domain Tuhan. Tugas kita hanyalah memastikan bahwa bibit yang ada di tangan kita tidak mati sia-sia karena kita terlalu sibuk mencemaskan hari esok.
Jangan pernah biarkan kegagalan, ketidakpastian ekonomi, atau kekacauan dunia menghentikan langkah baikmu. Teruslah menanam, teruslah berjuang, walau Anda tahu Anda mungkin tidak akan pernah berdiri di panggung kemenangan. Sebab, di hadapan Allah, kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika Anda tetap memilih untuk menanam di saat semua orang memilih untuk menyerah.
Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I
Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya – Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya












