Pernahkah kita menyadari sebuah paradoks besar hari ini? Di bawah cahaya lampu, sujud kita mungkin panjang dan khusyuk di atas sajadah, namun saat layar ponsel menyala, jempol kita begitu ringan menebar caci, prasangka, hingga pamer kemewahan di kolom komentar. Ada jurang yang dalam antara keshalehan ritual dengan etika digital, seolah ketaqwaan kita hanya bertahan selama mukena atau peci masih dikenakan, namun luntur seketika saat notifikasi media sosial mulai berbunyi dan muncul menggoda.
Fenomena ini membawa kita pada satu pertanyaan fundamental yang menggigit:
benarkah kita sedang mengejar ridha Ilahi, atau sekadar membangun “kosmetik spiritual” agar terlihat saleh di mata manusia?
Taqwa yang utuh tidak mungkin membelah diri, ia tidak mungkin tumbuh subur di masjid namun mati di dunia maya. Melalui lima dimensi “Operating System” hidup berikut, mari kita bedah kembali apakah iman kita adalah kompas sejati atau sekadar gaya.

1. Aqidah: Kompas Mental di Tengah Materialisme
Aqidah adalah fondasi. Tanpa iman yang benar, amal hanyalah debu. Di era modern, aqidah berarti menolak “berhala” baru seperti zodiak atau ketergantungan mutlak pada koneksi manusia. Sebagaimana QS. Al-Baqarah: 177 menegaskan bahwa kebajikan sejati dimulai dari iman kepada Allah dan hari akhir. Orang bertaqwa akan tetap tenang menghadapi krisis ekonomi karena yakin Allah adalah Ar-Razzaq.
2. Ibadah: Spiritual Recharge, Bukan Sisa Waktu
Taqwa termanifestasi saat shalat bukan lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan untuk mengisi ulang energi spiritual. QS. Al-Baqarah: 2-3 menyebutkan bahwa Muttaqin adalah mereka yang mendirikan shalat dan menafkahkan rezeki. Implementasinya nyata: berani berhenti sejenak dari rapat saat adzan berkumandang, bukan menjadikan shalat sebagai aktivitas di waktu sisa.
3. Ilmu: Literasi agar Tak Terpapar Hoaks
Taqwa tanpa ilmu melahirkan fanatisme buta. Dalam QS. Fatir: 28, Allah berfirman bahwa yang paling takut kepada-Nya hanyalah orang yang berilmu (Ulama). Di era disrupsi, taqwa berarti melakukan tabayyun (verifikasi) sebelum menyebar informasi agama di grup WhatsApp, sesuai hadits bahwa kebaikan seseorang ditandai dengan pemahamannya terhadap agama (HR. Bukhari & Muslim).
4. Akhlaq: Integritas “Jempol” dan Lisan
Akhlaq adalah wajah dari taqwa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa yang paling banyak memasukkan orang ke surga adalah taqwa dan akhlaq yang baik (HR. Tirmidzi). Taqwa berarti mampu menahan amarah dan memaafkan (QS. Ali ‘Imran: 134), terutama saat berdiskusi di media sosial. Integritas diuji saat kita tetap sopan meskipun lawan bicara memancing emosi.
5. Sosial: Dari Konsumtif Menjadi Kontributif
Keshalehan sosial adalah bukti nyata bahwa taqwa kita bermanfaat. QS. Al-Baqarah: 177 merinci bahwa orang bertaqwa adalah mereka yang memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, yatim, dan miskin. Taqwa hari ini bukan hanya zakat, tapi aksi nyata seperti crowdfunding kemanusiaan atau menjaga kebersihan umum sebagai bentuk syukur atas bumi Allah.
Sebelum saya tutup artikel ini, izinkan berbagi kepada rekan-rekan semua. Lakukanlah minimal 5 hal di bawah ini dan tinggalkan 5 hal di era digital ini.
- Aqidah : Lakukan menggunakan fitur “Mute/Unfollow” pada akun yang merusak aqidah/iman dan tinggalkan Percaya pada ramalan nasib, horoskop, atau konten klenik di medsos.
- Ibadah : Lakukan menyalakan mode “Do Not Disturb” saat waktu ibadah agar khusyuk. dan tinggalkan suka begadang/cangkruk serta bermain gadget saat ada Ceramah atau menunggu iqamah
- Ilmu : Lakukan mengikuti webinar keagamaan dari guru yang sanad ilmunya jelas.dan tinggalkan Menelan mentah-mentah kutipan hadits tanpa verifikasi (tabayyun)
- Akhlaq : Lakukan Berkomentar dengan kata-kata yang santun dan membangun.dan tinggalkan Cyberbullying, menghujat di kolom komentar, atau menyebar aib orang.
- Sosial : Lakukan Menggalang dana online untuk kemanusiaan (Palestina/Bencana). dan tinggalkan Pamer kemewahan (flexing) yang menimbulkan rasa iri dan hasad.
Taqwa adalah satu kesatuan yang utuh. Menjadi sholeh di sajadah (aspek ibadah) namun buruk di media sosial (aspek akhlaq) atau acuh pada penderitaan sekitar (aspek sosial) menunjukkan ketaqwaan yang belum sempurna. Pada akhirnya, taqwa bukan tentang bagaimana kita terlihat, karena Rasulullah SAW mengingatkan sambil menunjuk dadanya: “Taqwa itu ada di sini” (HR. Muslim).
“Pada akhirnya, ketaqwaan sejati tidak diukur dari seberapa estetis kutipan agama di profil media sosial kita, melainkan dari seberapa mampu nilai-nilai sajadah itu mengerem jempol dan lisan kita saat sendirian. Mari berhenti menjadikan agama sebatas aksesori, dan mulailah menjadikannya fondasi; karena di hadapan Allah, kita bukan dinilai dari ‘gaya’ yang kita tampilkan, melainkan dari ketulusan yang berakar di dalam hati.”
Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I
(Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya)












