Ramadhan kembali menyapa. Namun, kehadirannya kali ini terasa kontras di tengah potret masyarakat yang tengah mengalami “luka lebam” secara moral dan spiritual. Kita menyaksikan masjid-masjid berdiri megah secara fisik, namun sunyi dari pancaran nilai-nilai transformatif. Di balik keriuhan ritual tahunan ini, tersimpan tantangan besar: bagaimana puasa mampu menjadi obat bagi degradasi mental yang kian mengkhawatirkan?
Ritual Tanpa Ruh: Jebakan Kesalehan Formalistik
Fenomena hari ini menunjukkan gejala melemahnya iman yang hanya bersifat formalitas. Banyak dari kita terjebak dalam “kesalehan ritualistik”—rajin beribadah namun terputus dari dampak sosial. Ironisnya, angka korupsi tetap tinggi dan kepedulian sosial sering kali jalan di tempat, meski mayoritas penduduk menjalankan puasa. Inilah tanda nyata degradasi moral; ketika agama baru sebatas “pakaian” identitas, belum menjadi kompas perilaku yang hakiki.

Untuk itu, dibutuhkan tiga langkah pembaruan (tajdid) yang mendasar:
1. Tajdid Aqidah: Memurnikan Tauhid dari Berhala Modern
Pilar pertama yang harus diperbarui adalah aqidah. Tajdid aqidah bukan sekadar membahas teori ketuhanan di atas kertas, melainkan memurnikan tauhid dari “berhala-berhala modern” seperti materialisme, hedonisme, dan pemujaan terhadap jabatan. Berdasarkan QS. Al-Baqarah: 183, output takwa harus mewujud dalam kejujuran berbisnis dan profesionalisme kerja. Puasa dalam bingkai tauhid harus mampu membentuk karakter Khaira Ummah (umat terbaik).
2. Tajdid Mental: Puasa Digital dan Budaya Tabayyun
Kesehatan mental masyarakat saat ini tercermin pada liarnya etika di ruang digital. Maraknya hoaks, cyber-bullying, dan konten adu domba adalah cermin mentalitas yang sakit. Kita butuh tajdid mental untuk melawan “perkataan dusta” (qoulaz-zuur). Ramadhan harus menjadi momentum “Puasa Digital” sekaligus memperkuat budaya Tabayyun (verifikasi) agar kita tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan.
3. Tajdid Sosial: Menggerakkan Spirit Al-Ma’un
Iman yang sehat harus melahirkan kepedulian. Di tengah fluktuasi harga pangan yang menghimpit, Ramadhan adalah ajang pembuktian iman melalui aksi nyata. Kita harus melawan budaya israf (berlebihan) saat berbuka puasa di kala tetangga sedang kesulitan. Filantropi strategis melalui lembaga seperti Lazismu harus dikuatkan untuk membantu kaum dhuafa secara sistemik, termasuk memastikan anak-anak kurang mampu tetap bisa mengakses pendidikan.
Sinergi Lima Pilar Masyarakat
Untuk memutus rantai degradasi ini, diperlukan langkah konkret dari lima elemen kunci:
- Pemerintah: Menjamin stabilitas harga pangan dan menciptakan ekosistem digital yang sehat melalui regulasi tegas terhadap konten negatif.
- Ulama: Menggeser orientasi dakwah dari sekadar fikih ritual menuju “Literasi Puasa” yang menyentuh aspek akhlak sosial dan digital.
- Aghniya (Orang Kaya): Mengalihkan gaya hidup mewah menjadi kedermawanan yang memberdayakan.
- Pendidik: Mengintegrasikan nilai iman dan ilmu untuk membentengi generasi muda dari degradasi moral.
- Orang Tua: Menjadi “madrasah pertama” yang mendampingi anak dalam penggunaan teknologi serta menanamkan kejujuran sejak dini.
Penutup: Garis Start Perubahan
Malam-malam Ramadhan adalah garis start kita untuk melakukan pemulihan total. Dengan sinergi antara pemerintah yang adil, ulama yang mencerahkan, orang kaya yang peduli, guru yang mendidik, dan orang tua yang membimbing, Ramadhan 2026 dapat menjadi momentum transformasi sosial yang nyata.
Kita tidak boleh membiarkan ritual kita melemah dan moral kita luruh tergerus zaman. Melalui Tajdid Aqidah yang kokoh, Tajdid Mental yang sehat, serta Tajdid Sosial yang peduli, kita berharap keluar dari bulan suci ini bukan sekadar sebagai pribadi yang shalih secara individu, melainkan menjadi penggerak kemajuan peradaban.
Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I
(Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya dan Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya)












